HARI KE DUA PENELITIAN DI PESANTREN NURMEDINA
Foto disamping adalah salah satu kegiatan pesantren yaitu mengaji ta'lim bersama Ust H.Endang Husna Hadiawan. Sebagai
wujud kecintaan beliau pada dakwah melalui al-Qur’an, maka mulai tahun 2009
inilah, translokasi Majelis Ta’lim juga diikuti dengan transfigurasi nilai dan
ideologi. Pengajian yang pada awalnya diadakan ba’da maghrib, kemudian ditambah
lagi ba’da isya’ dan ba’da shubuh. Kegiatanpun semakin banyak dan bervariasi.
Maka dengan terus berkembangnya pengajian di tempat baru ini, Ustadz H. Endang,
para guru dan masyarakat setempat menyepakati untuk menjadikan Majelis Ta’lim
sebagai pesantren yang kemudian dikenal dengan Pesantren Al-Qur’an Nur Medina.
Dalam
proses perkembangan pendidikannya tidak hanya masyarakat sekitar Pondok Cabe
saja yang menikmati pengajaran al-Qur’an yang diterapkan, melihat tata letak
yang sangat strategis berdampingan dengan beberapa institusi perguruan tinggi
maka pesantren al-Qur’an Nur Medina juga semakin banyak didatangi oleh para
calon mahasantri dari berbagai kota dan provinsi yang niat untuk bermukim dan
ngaji di pesantren sekaligus meneruskan belajar pada perguruan tinggi. Mereka
adalah Mahasiswa/i Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (IPTIQ), Institut
Ilmu al-Qur’an (IIQ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta dan beberapa kampus lainnya disekitar Pesantren Al-Qur’a Nur Medina.
Mahasantri
yang bermukim di Pesantren al-Qu’an Nur Medina mempelajari al-Qur’an didampingi
oleh pengasuh sendiri yaitu Ustadz H. Endang Husna hadiawan yang selama ini
mengabdikan dirinya untuk mengajarkan al-Qur’an. Untuk itu, Pesantren al-Qur’an
Nur Medina selain menjadi tempat pendidikan, juga menjadi sarana melatih masyarakat
pondok cabe dan mahasantri betapa pentingnya belajar al-Qur’an dan
bermasyarakat, karena sejatinya pesantren merupakan media berbudaya dalam
kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan
pengajian hafalan al-Qur’an yang ada di Pesantren Nur Medina ini bersifat wajib diikuti bagi oleh seluruh
mahasantri, akan tetapi berangkat dari berbedanya latar belakang santri yang
masuk dengan kemampuan membaca al-Qur’an yang berbeda pula maka setoran hafalan
tidak bersifat wajib akan tetapi sebagai anjuran bagi semua santri, karena
nanti akan dipilah mana mahasantri yang sudah layak pada jenjang menghafal dan
mana mahasantri yang masih membutuhkan bimbingan baca al-Qur’an.
Pesantren Nur Medina dengan
kegiatan hafalan al-Qur’an seperti pesantren hafalan lain mempunyai ciri khas
atau karakteristik tersendiri yakni “Berwawasan Wirausaha”, dari seluruh
mahasantri yang bermukim di pesantren beberapa telah membuka berbagai usaha dan
bisnis untuk menambah skil yang dimiliki, pengasuh sendiri mendukung penuh
usaha mahasantri dalam mentradisikan berwirausaha, misalnya ada mahasantri yang
usaha membuat susu kedelai, menjual donat, menjual pulsa, berjualan makanan
ringan ketika pelaksanaan pengajian TPQ di Pesantren Nur Medina dll.

Komentar
Posting Komentar