ARTIKEL PESANTREN AL QUR-AN NURMEDINA
PROFIL LEMBAGA
PESANTREN AL-QUR’AN NUR MEDINA
A.
Sejarah
Pesantren al-Qur’an Nur Medina
Disadari atau
tidak, pengaruh lingkungan dalam pembentukan karakter seseorang sangatlah
dominan. Banyak studi kasus menjelaskan seseorang yang awalnya mempunyai
karakter yang baik, setelah hidup dalam lingkungan yang kurang baik, lambat
laun terkontaminasi dan pada akhirnya mengikuti arus yang ada. Seseorang
sebagai pelaku kriminalitas lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan yang
tidak bersahabat, pengaruh media atau perlakuan teman sekelilingnya. Maka dari
itu dibutuhkan lembaga atau komunitas yang bisa berperan menjamin pendidikan
yang baik bagi generasi penerus bangsa.
“Lembaga
pendidikan seperti pesantren, kini diakui oleh banyak kalangan sebagai lembaga
pendidikan yang mampu membentuk dan mengembangkan kepribadian (personality development) dan membangun
karakter (character building)
generasi bangsa.”
Hal ini sangat
mungkin terjadi mengingat selama berada di pesantren, para santri berada dalam
lingkungan pendidikan yang memadukan pengajaran dan pengasuhan sekaligus. para
santri mengalami dan merasakan langsung bagaimana hidup bersama yang penuh
persaudaraan, keramahan dan keakraban dengan sesama teman disertai jiwa
kemandirian dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Dengan melihat
begitu pentingnya membentuk lingkungan yang kondusif dan konstruktif, maka
Ustadz H. Endang Husna Hadiawan S.Ag selaku alumni Pesantren al-Qur’an
al-Furqon Bogor dan lulusan terbaik kedua Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, didampingi istri tercinta Ustadzah Hj. Arbiyah Mahfudz, S.Q yang
merupakan alumni Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta, mencoba berinisiatif
untuk mengamalkan ilmu yang didapat dengan mengadakan pengajian al-Qur’an di rumah
kediaman mereka.
Bulan Mei tahun
2004 dimulailah pengajian al-Qur’an di rumah kediaman beliau yang masih
mengontrak, di jalan Trubus II RT. 01 RW. 04 Pondok Cabe dengan murid yang
mengaji tiga orang. Berbekal kesungguhan mereka berdua terus mengabdikan
dirinya dalam pembinaan dan pembentukan karakter masyarakat. Semangat progresif
dan niatnya untuk terus menjadi bagian dalam syiar agama terutama dalam
membumikan al-Qur’an, karena pada bulan Januari 2005 jumlah santri yang menimba
ilmu di kontrakan beliau bertambah sampai 50 murid pengajian, pengajian
al-Qur’anpun makin semarak, sehingga masyarakat luas banyak mengenal tempat
pengajian ini dengan nama Majelis Ta’lim al-Husna yang diambil dari
penggagasnya yaitu ustadz Endang Husna.
Satu tahun
berjalan, syiar pengajian semakin terdengar luas. Murid yang mengajipun semakin
tak terbendung, mencapai 150 murid lebih. Rumah kediaman beliau tak lagi dapat
menampung. Akhirnya sebagian murid mengaji di teras rumah. Dengan semakin
bertambahnya jumlah murid yang mengaji maka tentu diperlukan tambahan guru
pengajar untuk mengkondisikan dan memaksimalkan pengajian. Maka pada tahun 2006
bertambahlah satu tenaga pengajar dari karawang yaitu ustadzah Umamah, kemudian
disusul tiga guru dari kampung setempat yaitu ustadzah Yaning, Yanti dan
ustadzah Dewi.
Dari tahun ke tahun, Majelis Ta’lim
al-Husna semakin memasyarakat. Selain karena idealisme Ustadz Endang yang ingin
menciptakan pendidikan berkualitas yang murah tapi tidak murahan, juga dukungan
para guru, tetangga, lingkungan setempat, dan para wali santri yang begitu
besar menjadikan pengajian ini tempat yang nyaman untuk para santri menimba
ilmu dan pengalaman. Buktinya, meskipun dengan beberapa kali perluasan teras
halaman rumah, namun derasnya pertambahan santri tidak lagi dapat diimbangi.
Akhirnya, para santri benar-benar tidak dapat tertampung lagi.
Sepulang
dari tanah suci, Ustadz H. Endang dan istri berinisiatif untuk mulai mencari
tempat yang lebih memadai. Nama Majelis Ta’lim al-Husna juga ikut diganti
dengan Nur Medina. Ini didasari dengan spirit perjalanan haji beliau dari
Madinah Al-Munawwarah dapat terus dijaga dalam usaha beliau mengamalkan ilmunya
kepada masyarakat.
Filosofi
kata Nur Medina (Nurul Madinah) juga diambil dari hijrah Rasulullah saw dari
kota Makkah ke kota Madinah yang menjadi awal mula terbukanya jalan syiar
beliau. Madinah menjadi pusat dakwah dan peradaban Islam. Hijrah Nabi saw mengubah
budaya Jahili menuju budaya Islami.
“Nama
Nur Medina diharapkan dapat menjadi spirit dakwah seperti keberhasilan dakwah
Rasulullah saw dengan hijrahnya beliau ke Madinah. Hijrah Nur Medina berarti
hijrah dari situasi yang kurang baik menjadi lebih baik atau lebih spesifiknya
adalah siapapun yang belajar di Nur Medina diharapkan akan menjadi manusia yang
cerdas, disiplin, berkarakter, berkepribadian dan berakhlakul karimah, sehingga
nama Nur Medina identik dengan keinginan membangun peradaban baru yang lebih
baik yang dilandasi oleh al-Qur’an.”
Harapan
mulia beliau akhirnya mulai mendapatkan titik terang. Di hari ketiga
istikharah beliau, Ustadz H. Endang
kedatangan tamu dari Solo (Jawa Tengah) yaitu H. Sugondo dan istrinya Hj. Ninik
Mulyani. Mereka yang tidak lain adalah teman seperjalanan haji beliau pada
tahun 2005, berusaha untuk bersama-sama merealisasikan harapan Ustadz H. Endang
mencari tempat pengajian yang lebih mencukupi. Dengan izin Allah, melalui salah
seorang wali satri yaitu Ibu Kartini, ustadz Endang membeli tanah milik H.
Muhamin atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan H. Semu di Jalan Cabe 3, RT.
004 RW. 004 Pondok Cabe Ilir seluas 170 m2.
Awal
tahun 2008, pembangunan tempat pengajian barupun dimulai. Tempat yang
diharapkan dapat memberikan lebih banyak ruang gerak, manfaat dan kelayakan
bagi para santri. Dalam prosesi pembangunan tersebut, Ustadz H. Endang akhirnya
dapat menambah lagi 86 m2 disekitar area pembangunan. Kemudian dalam
kurun waktu yang relatif tidak lama, Ustadz H. Endang mendapat dukungan dari
Bapak H. Jodi dan Bapak Agus Darsono untuk membeli lagi tanah tersisa yang
masih kosong dengan luas 300 m2. Lengkaplah area pengajian baru yang
diharapkan.
Pembangunan
tempat pengajian baru berlangsung selama kurang lebih satu tahun dan pada bulan
Mei tahun 2009, area baru inipun resmi ditempati. Klasikal pengajianpun semakin
terkondisi. Nama Majelis Ta’lim Nur Medina semakin dikenal disana-sini, hingga
beberapa santri meminta izin kepada ustadz Endang untuk menambah jam pengajian
al-Qur’an dengan mulai ikut tinggal bermukim di Majelis Ta’lim. Santri-santri
tersebut adalah Sukardi Hasan, Zaenal Abidin, Nurul Khotimah, Mustaqimah
Ubaidillah dan Sri Rahayu.
Sebagai
wujud kecintaan beliau pada dakwah melalui al-Qur’an, maka mulai tahun 2009
inilah, translokasi Majelis Ta’lim juga diikuti dengan transfigurasi nilai dan
ideologi. Pengajian yang pada awalnya diadakan ba’da maghrib, kemudian ditambah
lagi ba’da isya’ dan ba’da shubuh. Kegiatanpun semakin banyak dan bervariasi.
Maka dengan terus berkembangnya pengajian di tempat baru ini, Ustadz H. Endang,
para guru dan masyarakat setempat menyepakati untuk menjadikan Majelis Ta’lim
sebagai pesantren yang kemudian dikenal dengan Pesantren Al-Qur’an Nur Medina.
Dalam
proses perkembangan pendidikannya tidak hanya masyarakat sekitar Pondok Cabe
saja yang menikmati pengajaran al-Qur’an yang diterapkan, melihat tata letak
yang sangat strategis berdampingan dengan beberapa institusi perguruan tinggi
maka pesantren al-Qur’an Nur Medina juga semakin banyak didatangi oleh para
calon mahasantri dari berbagai kota dan provinsi yang niat untuk bermukim dan
ngaji di pesantren sekaligus meneruskan belajar pada perguruan tinggi. Mereka
adalah Mahasiswa/i Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (IPTIQ), Institut
Ilmu al-Qur’an (IIQ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta dan beberapa kampus lainnya disekitar Pesantren Al-Qur’a Nur Medina.
Mahasantri
yang bermukim di Pesantren al-Qu’an Nur Medina mempelajari al-Qur’an didampingi
oleh pengasuh sendiri yaitu Ustadz H. Endang Husna hadiawan yang selama ini
mengabdikan dirinya untuk mengajarkan al-Qur’an. Untuk itu, Pesantren al-Qur’an
Nur Medina selain menjadi tempat pendidikan, juga menjadi sarana melatih masyarakat
pondok cabe dan mahasantri betapa pentingnya belajar al-Qur’an dan
bermasyarakat, karena sejatinya pesantren merupakan media berbudaya dalam
kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan
pengajian hafalan al-Qur’an yang ada di Pesantren Nur Medina ini bersifat wajib diikuti bagi oleh seluruh
mahasantri, akan tetapi berangkat dari berbedanya latar belakang santri yang
masuk dengan kemampuan membaca al-Qur’an yang berbeda pula maka setoran hafalan
tidak bersifat wajib akan tetapi sebagai anjuran bagi semua santri, karena
nanti akan dipilah mana mahasantri yang sudah layak pada jenjang menghafal dan
mana mahasantri yang masih membutuhkan bimbingan baca al-Qur’an.
Pesantren
Nur Medina dengan kegiatan hafalan al-Qur’an seperti pesantren hafalan lain
mempunyai ciri khas atau karakteristik tersendiri yakni “Berwawasan Wirausaha”,
dari seluruh mahasantri yang bermukim di pesantren beberapa telah membuka
berbagai usaha dan bisnis untuk menambah skil yang dimiliki, pengasuh sendiri
mendukung penuh usaha mahasantri dalam mentradisikan berwirausaha, misalnya ada
mahasantri yang usaha membuat susu kedelai, menjual donat, menjual pulsa,
berjualan makanan ringan ketika pelaksanaan pengajian TPQ di Pesantren Nur
Medina dll.
1.
Visi
dan Misi Pesantren al-Qur’an Nur Medina
Visi
1.
Terciptanya lembaga pendidikan
tingkat tinggi untuk santri sebagai pusat tafaqquh
fiddin yang berakhlak karimah.
2.
Menjadi pesantren yang melahirkan khaira ummah (umat terbaik)
3.
Berkompetensi global dan berwawasan
internasional
Misi
1.
Menyelenggarakan pendidikan, kajian
dan pengabdian keislaman secara holistik dan
komprehensif bagi santri melalui kitab klasik maupun
kontemporer.
2.
Menciptakan dan mengembangkan
kemandirian berfikir dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam semua sisi kehidupan.
3.
Mewujudkan lembaga pendidikan
tinggi bagi santri yang murah (gratis) tapi berkualitas.
Research
and Development Pesantren Nurmedina
1.
Santri Putra
Nurmedina
A.
Kegiatan
1.
Menghafal Surat
Pilihan dan Ayat Pilihan
2.
Pelatihan Imam
Sholat Wajib
3.
Pelatihan Khutbah
4.
Pelatihan Tahsinul
Qur’an
5.
Pelatihan ceramah
dan cerita hikmah
6.
Pelatihan Tarjamah
Al-Qur’an
7.
Penguasaan materi
surat dan ayat pilihan (termasuk mengambil hikmah didalamnya)
8.
Kebersihan
pesantren
9.
Masak dan makan
berkah
10.
Olahraga bersama
11.
Kegiatan kemasyarakatan
(mengajar alQuran mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua)zazaq,k
12.
Tahlil dan tadarus
di masyarakat
B.
Kelebihan
1.
Lebih bisa
mendalami surat dan ayat pilihan karena fokus terhadap pembahasan
2.
Membentuk mental
untuk tampil di depan umum
3.
Membentuk mental
untuk tampil sebagai pemimpin
4.
Memberikan ruang
bebas untuk menunjukan bakat dan kelebihan
5.
Mengapresiasi
setiap kegiatan yang terkait
6.
Saling membantu
dalam hal kemasyaraatan
7.
Mampu tampil
dimasyakarat
8.
Mempunyai bekal
kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat
9.
Terjalin
kebersamaan antar santri putra
10.
Terjalin
kebersamaan bermasyarakat
C.
Kekurangan
1.
Saling
mengandalkan
2.
Masih merasa
canggung dan malu
3.
Beberapa ada kubu
dan sekte sekte dalam pertemanan
4.
Beberapa belum ada
yang dekat dan mengayomi masyarakat
5.
Terkadang jika ada
santri yang ‘sakit’ bukan mengobati tapi lebih pada melenyapkan
6.
Permasalahan pribadi
dan harusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah sesama santri kebanyakan harus
diselesaikan oleh pimpinan
7.
Kurang nya
kepekaan terhadap kegiatan
8.
(saat ini) belum
ada gebrakan dari santri baru untuk membuat kegiatan dengan adik-adik TPA malam
9.
Masih ada beberapa
yang masing-masing dan teradang tidak peduli dengan temannya
10.
Jika keluar dari
pesantren ada beberapa yang tidak menerapkan sistim 5 S
(senyum,salam,sapa,sopan,santun) terhadap masyarakat maupun sesama santri
(putera & puteri)
D.
Saran dan solusi
1.
Membuat kegiatan
kebersamaan minimal sebulan sekali (baik khusus santri putera atau seluruh
santri) caranya : - mungkin bisa membuat sebuah kegiatan seperti lomba memasak
antar santri , -membuat kegiatan olahraga bersama ke monas atau gelora
bungkarno, -atau pelatihan kemiliteran bersama TNI (hal ini di alami penulis
karena dengan ini bisa diambil pelajaran bahwa TNI dkk. Mampu membuat tim yang
solid dan berjiwa kepemimpinan)
2.
Lebih kepada
pengkaderan bukan semuanya bisa di lakukan sendiri karena regenerasi lebih
penting . caranya : - memberikan tugas khusus kepada setiap individu, bukan
semuanya dilakukan dengan sendiri tapi lebih kepada bagaimana caranya individu
ini bisa memcahkan masalah dengan kelompoknya. Contoh : memberikan tugas kepada
tiga orang santri untuk membuat kegiatan dengan adik adik pengajian
3.
Membuat kegiatan
dengan masyarakat (minimal 1 Bulan sekali)
4.
Melakukan
kunjungan atau study banding dengan
pesantren alQuran yang sudah mendunia
5.
Membuat lebih baik
lagi sistem kebersamaan dan rasa saling memiliki

Komentar
Posting Komentar